ANAK TK TIDAK BOLEH BELAJAR CALISTUNG, BENARKAH?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Permendikbud (Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan
Teknologi) nomer 1
tahun 2021 menyatakan bahwa masuknya anak PAUD ke SD tidak boleh melalui tes
Calistung. Hayooo ... Ayah Bunda sudah tahukah aturan ini?
Perkara calistung ini selalu menjadi dilema bagi semua
pihak. Pasalnya, dalam surat edaran Direktorat Jendral Management Pendidikan
Dasar dan Menengah no. 1839/C.C2/TU/2009 dikatakan bahwa Calistung tidak
diperbolehkan masuk dalam kurikulum utama PAUD dan TK. Artinya, guru PAUD dan
TK dilarang mengajarkan Calistung kepada muridnya. PAUD dan TK yang kedapatan
mengajarkan Calistung secara driling (langsung) akan mendapatkan teguran bahkan
sanksi dari pihak terkait. Sehingga beberapa sekolah memasukan materi Calistung
dalam kegiatan pembelajaran lain dan tidak diajarkan secara langsung. Namun, tak
jarang beberapa sekolah tetap mengajarkan Calistung secara driling dan harus kucing-kucingan
dengan pengawas.
Di sisi lain, siswa kelas 1 SD dituntut untuk sudah bisa
Calistung. Aturan tersebut memang tidak tertulis, akan tetapi kondisi
masyarakat kita seolah-olah mewajibkan anak sudah pandai Calistung sebelum
masuk SD. Orang tua sering kali merasa khawatir jika anaknya belum lancar
Calistung ketika melihat program pembelajaran anak-anak mereka di kelas 1 SD. Ditambah
lagi, tuntutan dari lingkungan (guru atau orang tua murid lain) yang sering
kali mendiskreditkan beberapa anak yang belum pandai Calistung. sehingga kerap
kali orang tua harus melakukan upaya tambahan untuk mengajarkan calistung,
seperti menghadirkan guru les.
Calistung tidak pernah mendapatkan perhatian khusus baik
di TK maupun SD. Di SD Calistung tidak dimasukkan ke dalam mata pelajaran.
Tidak ada jam khusus yang memungkinkan anak-anak melatih kemampuan membaca,
menulis dan berhitungnya. Program pembelajaran juga relatif sulit untuk
anak-anak yang belum bisa calistung. Kondisi ini lah yang pada akhirnya membuat
orang tua berpikiran bahwa sekolah TK yang bagus adalah yang berhasil mencetak
lulusan yang pandai Calistung. Kemudian para orang tua berlomba-lomba
mengajarkan anak Calistung sedini mungkin tanpa memperdulikan kondisi si anak
terlebih dahulu serta melupakan efek jangka panjang.
Kenyatan ini cukup memprihatinkan sebab akhirnya sedikit
sekali orang tua yang peduli pada aspek perkembangan dasar anak. Fokus mereka
pada pengajaran calistung sedini mungkin, sering kali mengesampingkan
perkembangan pada aspek sensori motorik, sosial emosi, dan kemandirian. Padahal,
3 aspek perkembangan dasar ini sebetulnya menjadi fondasi perkembangan anak di
berbagai aspek nantinya.
Lantas, bagaimana seharusnya pengajaran Calistung pada
anak?
Calistung adalah bagian dari literasi dan numerasi. Yang
seharusnya diupayakan bukan hanya tentang bagaimana anak bisa membaca dan
berhitung, tetapi untuk apa mereka diajarkan. Jadi, mengajarkan mereka dari
dasar adalah kuncinya. Sebelum kita mengajarkan membaca, tentu, seharusnya kita
mengajarkan mereka untuk tertarik atau mau membaca. Kita bisa membacakan buku
cerita anak atau kegiatan lainnya yang bisa memupuk minat membaca anak-anak
kita. Jika minat membaca anak sudah terbangun maka ketika mereka sudah bisa
membaca, kemampuan membaca mereka akan dipergunakan sebagaimana mestinya.
Begitu juga dengan berhitung. Berhitung bukan hanya
tentang angka, akan tetapi di dalamnya dibutuhkan penalaran, kerja keras, serta
pemahaman mendalam mengenai penyelesaian masalah. Konsep dasar berhitung (besar-kecil,
panjang-pendek, banyak-sedikit, dll) adalah kunci agar ketika anak sudah mampu
berhitung, mereka juga bersedia menuntaskan soal-soal di hadapannya.
Sebelum memutuskan untuk mengajarkan Calistung kita harus
paham benar kondisi anak: kita harus memastikan apakah anak sudah cukup siap
untuk diberikan pengajaran ini? Apakah aspek-aspek dasar lainnya tidak
terlupakan agar kelak tidak terjadi masalah-masalah yang tidak diinginkan?
Serta, kita harus mau mendampingi anak-anak kita, sebanyak apapun waktu belajar
calistung ini dibutuhkan. Artinya, kita tidak perlu terburu-buru dan memaksa
anak secepat mungkin harus pandai calistung.
Belajar adalah proses yang harus dijalani anak-anak kita
sepanjang hidupnya. Jadi, ajarkan anak-anak kita untuk menikmati proses belajar
mereka.
Yang harus digaris bawahi yaitu, kita bukan hanya
mengupayakan anak-anak kita bisa Calistung. Namun, bagaimana melalui membaca dan berhitung itu anak-anak bisa mengembangkan
kemampuan dirinya. Bagaimana dengan membaca dan berhitung itu otak dan nalar
mereka bisa bekerja. Tentu, kita tidak menginginkan kemampuan calistung ini
tidak digunakan pada saat dibutuhkan. Sebab, sangat mungkin bagi anak-anak yang
hanya diajarkan calistung, merasa bosan. Kemudian, saat kemapuan itu dibutuhkan
mereka memilih menyontek alih-alih membaca atau menghitung sendiri.
Akhirnya, bukan calistung yang berdampak buruk pada anak.
Namun, bagaimana cara kita mengajarkannya. Tentu, kita boleh mengajarkan Calistung tanpa mengesampingkan perkembangan dasar anak.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar