MEMAAFKAN



‎Baru-baru ini terjadi hal buruk yang membuat saya sangat syok. Kejadian yang mungkin cukup umum bagi sebagian orang, tapi entah kenapa sangat mengguncang jiwa saya. Mungkin, karena saya punya trauma atau mungkin karena ada Lupus dia tubuh saya--yang jika ada hal tidak mengenakan terjadi dari luar, Lupus menggerakkan organ-organ di dalam untuk protes dan melakukan perlawanan.


‎Namun, setelah saya mengambil keputusan untuk memutus hubungan dengan pihak-pihak yang sudah menyakiti dan berpotensi akan menyakiti, perlahan kondisi membaik. Alhamdulillah hati saya sudah pulih, sudah tidak terasa terlalu sakit lagi. Masih ada, sih, kadang-kadang muncul sedih, marah, kecewa, kesal tapi cuma sekelebat dan sangat bisa diatasi.


‎Dari kejadian kemarin saya belajar satu hal tentang memaafkan. Beberapa orang menyarankan saya untuk memaafkan. Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Kalaulah memaafkan bisa dengan otomatis mengobati luka di hati saya dan sakit ditubuh saya, tentu saya akan melakukannya. Sayangnya tidak bisa. Luka di hati saya butuh proses untuk sembuh, tubuh saya juga butuh proses untuk kembali stabil kesehatannya.


‎Orang yang berkonflik dengan saya sudah minta maaf, tapi saya tahu itu hanya basa-basi dan upaya untuk meredakan reaksi saya. Kenyataannya dia masih mempertanyakan apa salahnya? masih mempertanyakan kata-kata dan sikap mana yang membuat hati saya sakit. Artinya, dia belum menyadari kesalahannya. Lalu, bagaimana bisa saya memberikan maaf untuk orang yang belum menyadari kesalahannya, juga di saat hati saya masih  sangat sakit?


‎Yang saya lakukan kemarin adalah mengutamakan penyelamatan terhadap diri sendiri. Berupaya sebisa mungkin memutus rantai apapun yang bisa membuat hati saya semakin sakit. Lalu, sedikit demi sedikit berusaha mengobati luka, mengembalikan kepercayaan diri, dan berjuang menyusun langkah lagi untuk melanjutkan hidup. Sebab ketika hati sudah tidak sakit, kepercayaan diri sudah kembali, dan sudah bisa melanjutkan hidup lagi, maka, maaf akan muncul dengan sendirinya.


‎Saya tahu bahwa yang terjadi kemarin adalah sebuah miskomunikasi. Namun, didalam miskomunikasi ini saya menyadari ada pribadi-pribadi yang arogan, sombong, tidak berfikir kritis, ceroboh, dan tidak humanis.


‎Masalah kemarin bisa saja saya anggap angin lalu, tetapi saya tidak yakin masalah serupa tidak akan muncul lagi.


‎Saya sangat yakin, masalah bukan pada diri saya. Saya hanya mau bertahan dan berjuang untuk sesuatu yang bisa saya kendalikan. Jika, masalahnya ada di luar diri saya, tentu bukan hal mudah untuk mengendalikannya.


‎Alhamdulillah hati saya sudah sembuh dan hidup saya lebih baik hari ini, serta kejadian kemarin membawa banyak pelajaran berharga untuk saya. Saya sangat bersyukur diizinkan menghadapi dan melalui masalah kemarin.


‎Sekarang saya sudah bisa berkata: saya memaafkan mereka dan segala hal buruk yang saya rasakan kemarin. Untuk saya selesai, tetapi belum tentu untuk mereka.  Seperti halnya saya, semoga ada pelajaran berharga yang mereka petik dari kejadian kemarin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

ALTRUISME MURNI YANG MENYAKITI

5 TIPS MEMBERIKAN PENDIDIKAN YANG TEPAT UNTUK ABK