
Aku terduduk lesu tepat di pukul empat sore.
Aku menatap lekat jarum jam yang berdetak.
Iramanya lebih lambat dari detak jantungku.
Aku terpaku dalam hening sambil mengingat apa yang sudah kulalui hari ini.
Ini adalah tahun ke dua aku bekerja lagi setelah lebih dari tujuh tahun aku fokus pada anak dan suami.
Kadang terasa aneh dan setiap keanehan itu membawaku pada pelajaran-pelajaran baru.
Bagaimanapun berdampingan dengan manusia lain adalah tantangan.
Namun, kali ini rasanya sakit.
Aku terluka.
Bukan karena mereka, jelas ini karena diriku sendiri.
Aku yang tidak bisa mengendalikan kepedulian yang buta.
Katanya peduli itu tidak buruk, tapi kadarnya di dalam diriku berlebih.
Iya, aku selalu lupa batasku ketika aku peduli.
Tahun lalu, aku nekat menghadap atasanku hanya untuk meminta dilibatkan dalam penanganan anak.
Katanya dia seperti punya bibit psikopat.
Aku rela melampaui batasku karena aku peduli.
Anak sekecil itu dengan masalah serupa yang sering aku lihat pada anak-anak di klinik dulu, bagiku biasa.
Dia hanya sedang belajar.
Entah gangguan fisik motorik apa yang menyebabkan emosinya tidak ter-regulasi.
Atau mungkin, hanya masalah pola asuh yang tidak tepat saja.
Aku pikir, kami hanya harus sedikit lebih bersabar dan memahaminya lebih detail.
Aku yakin manusia kecil itu akan bertumbuh.
Jiwanya pun akan berkembang seiring tinggi badannya yang bertambah.
Beruntung, perkiraanku benar.
Namun, sesungguhnya aku lelah.
Ini bukan ranahku. Aku terlalu bekerja keras untuk itu.
Seusai itu aku berjanji, untuk selalu berada di lingkarangku.
Fokus pada tugas dan tanggung jawabku yang sesungguhnya.
Namun, hari ini rupanya aku mengingkari janjiku.
Sialnya, kali ini tak seberuntung dulu.
Kepedulianku tidak membawa kebaikan.
Sebaliknya, dia menghancurkan banyak hal.
Dia menyakitiku.
Aku masih terpaku, duduk sambil menatap jam dinding yang masih berdetak.
Suara detakannya masih kudengar dan detak jantungku masih kalah kencang.
Tak hanya itu, air mataku meleleh.
Perih rasanya.
Aku membayangkan kejadian siang tadi.
Di ruangan mungil itu, aku menatap manusia-manusia yang mati-matian menjaga kepentingannya.
Tidak termasuk aku.
Aku menyimpan beberapa hal untukku karena takingin masalah menjadi liar.
Mungkin mereka tidak menyadari aku menyimpannya atau memang tidak peduli.
Mereka membela diri.
Satu hal yang membuatku sedih, aku tidak melakukan hal serupa.
Aku mengakui kesalahanku dan menerima telunjuk mereka yang mengarah mukaku.
Namun, mereka dengan indah melindungi diri.
Mengatakan hal terbalik dari yang aku sembunyikan.
Iya, perih!
Itu karena aku tak cukup kuat melindungi diri.
Sepertinya ini tidak terlalu adil.
Aku terlalu naif melepaskan harga diriku, sampai-sampai di dalam sini ada yang menjerit. Tidak terima!
Perihnya cukup lama bersarang di dadaku.
Otakku berisik.
Protes akan tindakanku yang konyol ini begitu kencang.
"Ini seharusnya tidak perlu kau lakukan!"
"Kau harusnya bisa membela diri!"
"Ini bukan urusanmu, TOLOL!!!!"
" Fokus saja pada tugasmu, BODOH!!!"
Satu per satu makian menggangguku.
Suaranya santer terdengar meski hanya di dalam kepalaku.
Badanku lemas, tubuhku nyeri tak kuat menahan beban pikiran ini.
Aku hanya ingin tidur.
Namun, tak akan semudah itu!
Kemasan biru dengan tablet putih bertuliskan "Procold Flu dan Batuk" ikut berisik memanggilku.
Terpaksa kutelan satu meskipun aku tidak sedang batuk atau flu.
Aku hanya ingin tidur dengan nyenyak!
💮💮💮
Detak jam dinding lagi-lagi menggangguku.
Kali ini jarum pendeknya masih di angka 2 dan jarum panjang di angka 6.
Aku kembali terjaga setelah menelan pil itu.
Sial ... Dia hanya mampu mengendalikan otakku lima koma lima jam saja!
Berisik, masih saja di dalam sini. Meski kadarnya sedikit berkurang.
Kucoba mendengarkan lagu, murotal ayat suci dan hal-hal lain yang mungkin bisa mengalihkan pikiranku.
Seterluka itu, ya, wahai diriku?
Aku sudah sangat menyakitimu kah?
Masih beratkah memaafkan aku?
Aku biarkan dia yang masih terluka.
Mungkin aku harus memberinya ruang.
Lukanya, pasti pulih kan?
Iya, lukanya mulai pulih dan otakku kembali rasional.
Aku tidak berencana membuat ini terjadi.
Segalanya mengalir begitu saja, melukai orang lain bahkan diriku sendiri.
Namun, itu hanya harus terjadi karena sudah terjadi.
Lagi-lagi aku membuat janji untuk fokus pada tugasku saja dan menyibukkan diri pada hal-hal yang menjadi bagianku.
Setelah rasa yang menyakitkan biasanya ada bunga-bunga indah yang tumbuh.
Benar, sekali!
Kali ini aku belajar banyak hal tentang diri sendiri.
Aku yang terlalu pemikir, menyerap banyak hal bahkan ketika aku tak menginginkannya.
Kepala yang penuh itu selalu meledak di saat yang tidak tepat.
Mungkin aku hanya perlu menyadarinya dan mengendalikannya.
Sepertinya, aku harus menulis lebih sering. ☺️
Satu lagi, manusia hanya manusia dan segala kepentingannya.😉
Bandung, 12 Januari 2025 di senja yang sendu.
Komentar
Posting Komentar