MEMAAFKAN

Gambar
‎Baru-baru ini terjadi hal buruk yang membuat saya sangat syok. Kejadian yang mungkin cukup umum bagi sebagian orang, tapi entah kenapa sangat mengguncang jiwa saya. Mungkin, karena saya punya trauma atau mungkin karena ada Lupus dia tubuh saya--yang jika ada hal tidak mengenakan terjadi dari luar, Lupus menggerakkan organ-organ di dalam untuk protes dan melakukan perlawanan. ‎ ‎Namun, setelah saya mengambil keputusan untuk memutus hubungan dengan pihak-pihak yang sudah menyakiti dan berpotensi akan menyakiti, perlahan kondisi membaik. Alhamdulillah hati saya sudah pulih, sudah tidak terasa terlalu sakit lagi. Masih ada, sih, kadang-kadang muncul sedih, marah, kecewa, kesal tapi cuma sekelebat dan sangat bisa diatasi. ‎ ‎Dari kejadian kemarin saya belajar satu hal tentang memaafkan. Beberapa orang menyarankan saya untuk memaafkan. Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Kalaulah memaafkan bisa dengan otomatis mengobati luka di hati saya dan sakit ditubuh saya, tentu ...

PENDIDIKAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


 

Reviera novitasari, seorang gadis penyandang down syndrom berusia 31 tahun mendapatkan  medali perunggu renang 100 meter gaya dada pada kejuaraan renang internasional di Canberra, Australia pada 11-13 April 2008. Prestasi ini sungguh membanggakan siapapun yang mendengarnya, terlebih karena Reviera merupakan seorang disabilitas.

Kita tentu penasaran bagaimana orang tua Revierra mendidik dan mengasah bakatnya sehingga Reviera bisa berprestasi layaknya anak-anak normal. Dari  Reviera, kita bisa belajar bahwa sesungguhnya anak-anak berkebutuhan khusus itu memiliki potensi untuk berkembang, sama dengan anak-anak pada umumnya.

Lalu, sebetulnya bagaimana pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus itu?

Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah individu yang memiliki keterbatasan dalam fungsi kognisi, fisik, hingga emosi yang dapat menghalangi kemampuan individu dalam proses tumbuh kembangnya. ABK dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu:

ü  Tunanetra (disabilitas pengelihatan)

ü  Tunarungu (disabilitas pendengaran)

ü  Tunagrahita (disabilitas intelektual)

ü  Tunadaksa (disabilitas fisik)

ü  Tunalaras (disabilitas sosial emosi)

ü  Anak dengan GPP/ADHD

ü  Autisme

ü  Anak dengan gangguan ganda (memiliki 2 atau lebih hambatan)

ü  Anak lamban belajar

ü  Anak dengan gangguan belajar khusus (disleksia, disgrafia,diskalkulia)

ü  Anak dengan gangguan komunikasi, dan anak dengan potensi kecerdasan (gifted).

Sementara berdasarkan kemampuannya, ABK dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu 

Mampu rawat

ABK yang dikategorikan sebagai mampu rawat memiliki IQ dibawah 35. Tidak hanya masalah IQ, kondisi fisik juga seringkali menjadi hembatan untuk mampu menjalani kehidupannya secara mandiri dan mungkin akan selalu membutuhkan bantuan orang-orang terdekatnya.

ü      Mampu latih

ABK yang diklasifikasikan mampu latih adalah ABK yang bisa dilatih untuk mengurus dirinya sendiri. Skor IQnya berada di rentang 35-55. Perlu kesabaran dalam melatih anak-anak berkebutuhan khusus dengan kategori mampu latih. Namun, dengan kesabaran dan ketekuanan mereka akan mampu melakukan apa yang diajarkan guru atau orang tua.

ü      Mampu didik

Skor IQ ABK mampu didik adalah 55-70. Merupakan disabilitas intelektual ringan. Tak jarang, ABK dengan kategori ini mampu menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.

Pendidikan bukan hal yang mustahil dilakukan untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Namun, sebelum itu diupayakan alangkah lebih baik jika kita mengenal dan memahami kondisi anak. Dengan mengenal dan memahami kondis anak-anak spesialnya, orang tua pada akhirnya akan mampu menentukan harapan yang realistis untuk anak-anaknya. Harapan orang tua ini lah yang menjadi awal yang penting untuk menentukan arah pendidikan ABK. Tanpa harapan, orang tua akan kehilangan arah sehingga seringkali begitu banyak waktu dan biaya terbuang percuma, hanya karena salah menentukan pilihan sekolah. Menentukan harapan dan menggantungkannya kepada Yang Maha Kuasa adalah cara yang bijak agar orangtua tidak terlalu menekan dirinya sendiri bahkan anak-anak spesialnya jika hambatan dalam pendidikan harus dihadapi. Serta menentukan harapan yang fleksibel dengan melihat kondisi dan kemampuan anak juga akan sangat membantu.

Dewasa ini, menentukan sekolah bagi anak berkebutuhan khusus bukan menjadi masalah besar lagi. Permendikbud mengenai Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) mewajibkan semua sekolah menerima siswa inklusi. Artinya, sekolah harus mau menerima anak dalam kondisi apapun. Tidak hanya sekolah swasta bahkan sekolah negri pun kini menerima anak berkebutuhan khusus. Namun, bagaimana pelayanannya terhadap ABK itu yang harus sama-sama kita upayakan.

Berdasarkan pelayanan yang diberikan, sekolah bagi ABK terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:

ü  Sekolah reguler

Di sekolah reguler, ABK belajar bersama anak-anak normal. Semua fasilitas serta program pembelajarannya masih bersatu dengan anak-anak lain. Kondisi ini seringkali menjadi tantangan berat bagi semua pihak terlebih jika hambatan ABK cukup berat. Tidak hanya itu, seringkali ABK secara tidak langsung dituntut untuk menyesuaikan diri dengan siswa normal.

 

ü  Sekolah inklusi

Sekolah inklusi adalah sekolah yang menyelenggarakan pendidikan bagi semua anak (termasuk ABK) tanpa diskriminasi. Namun, kenyataannya hanya beberapa sekolah yang punya komitmen memberikan pelayanan yang dibutuhkan ABK.  Sekolah inklusi tidak hanya menerima dan menyelenggarakan pendidikan bagi ABK, tetapi memenuhi fasilitas yang dibutuhkan termasuk program pembelajaran yang relevan dengan kondisi masing-masing anak. Sekolah inklusi menjadi pilihan tepat bagi orang tua yang berharap ABKnya terbiasa hidup di lingkungan normal tanpa mengesampingkan keterbatasannya.

 

ü  Sekolah khusus

Sekolah khusus atau lebih dikenal dengan sekolah luar biasa adalah sekolah yang khusus diperuntukkan bagi ABK. Sekolah ini menjadi pilihan yang bijak bagi ABK terutama dengan hambatan berat sebab selain fasilitas dan program pembelajaran yang sesuai, seluruh tenaga pendidiknya sangat memahami kondisi ABK dan kompeten di bidangnya. Dengan segala fasilitas dan SDM yang mendukung, orang tua tidak perlu khawatir anak-anaknya mendapatkan diskriminasi.

 

Memberikan pendidikan bagi ABK artinya kita memberikan ruang bagi mereka untuk sama-sama bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ini merupakan hak dasar bagi seluruh anak apapun kondisinya. Lalu, bagaimana jika ABK tidak sekolah? Sebetulnya yang terpenting adalah ABK mendapatkan pendidikan. Entah, itu di lembaga formal (sekolah) maupun di rumah (non formal), yang terpenting ABK dididik dan dimaksimalkan kemampuannya agar mereka menjadi pribadi yang bermanfaat—setidaknya untuk diri sendiri.

Sejatinya ABK dan anak normal memiliki kesamaan dan perbedaan yang proporsional. Segala perbedaan ataupun persamaan itu ada bukan untuk didiskriminasi melainkan agar kita sama-sama belajar dan memahami satu sama lain. Bahkan, ketika ABK mendapat pendidikan bersama anak-anak normal, yang mendapatkan manfaat bukan hanya ABK. Anak-anak normal dan orang tuanya juga belajar untuk menerima serta dilatih untuk memaksimalkan kekuatannya dalam berinteraksi dengan ABK.

Akhirnya, kita semua berharap pendidikan bagi ABK sama baiknya dengan pendidikan bagi anak-anak normal; Semua pihak, terutama orang tua mampu memahami kondisi ABK dengan baik agar dapat memilihkan pendidikan yang tepat. Tentu, kita menginginkan iklim yang positif bagi tumbuh dan kembang ABK selayaknya yang telah kita upayakan bagi anak-anak normal. Sebab, sejatinya jika apa yang dibutuhkan ABK telah terpenuhi, mereka akan mampu memaksimalkan potensi yang dianugrahkan Tuhan seperti yang terjadi  pada Reviera novitasari.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAAFKAN

ALTRUISME MURNI YANG MENYAKITI

5 TIPS MEMBERIKAN PENDIDIKAN YANG TEPAT UNTUK ABK