PENDIDIKAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Reviera novitasari,
seorang gadis penyandang down syndrom berusia 31 tahun mendapatkan medali perunggu renang 100 meter gaya dada
pada kejuaraan renang internasional di Canberra, Australia pada 11-13 April
2008. Prestasi ini sungguh membanggakan siapapun yang mendengarnya, terlebih
karena Reviera merupakan seorang disabilitas.
Kita tentu penasaran
bagaimana orang tua Revierra mendidik dan mengasah bakatnya sehingga Reviera
bisa berprestasi layaknya anak-anak normal. Dari Reviera, kita bisa
belajar bahwa sesungguhnya anak-anak berkebutuhan khusus itu memiliki potensi
untuk berkembang, sama dengan anak-anak pada umumnya.
Lalu, sebetulnya bagaimana
pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus itu?
Anak berkebutuhan khusus
(ABK) adalah individu yang memiliki keterbatasan dalam fungsi kognisi, fisik,
hingga emosi yang dapat menghalangi kemampuan individu dalam proses tumbuh
kembangnya. ABK dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu:
ü Tunanetra (disabilitas
pengelihatan)
ü Tunarungu (disabilitas
pendengaran)
ü Tunagrahita (disabilitas
intelektual)
ü Tunadaksa (disabilitas
fisik)
ü Tunalaras (disabilitas sosial
emosi)
ü Anak dengan GPP/ADHD
ü Autisme
ü Anak dengan gangguan ganda
(memiliki 2 atau lebih hambatan)
ü Anak lamban belajar
ü Anak dengan gangguan
belajar khusus (disleksia, disgrafia,diskalkulia)
ü Anak dengan gangguan
komunikasi, dan anak dengan potensi kecerdasan (gifted).
Sementara berdasarkan kemampuannya, ABK dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu
Mampu rawat
ABK yang dikategorikan
sebagai mampu rawat memiliki IQ dibawah 35. Tidak hanya masalah IQ, kondisi
fisik juga seringkali menjadi hembatan untuk mampu menjalani kehidupannya
secara mandiri dan mungkin akan selalu membutuhkan bantuan orang-orang
terdekatnya.
ü Mampu latih
ABK yang diklasifikasikan
mampu latih adalah ABK yang bisa dilatih untuk mengurus dirinya sendiri. Skor IQnya
berada di rentang 35-55. Perlu kesabaran dalam melatih anak-anak berkebutuhan
khusus dengan kategori mampu latih. Namun, dengan kesabaran dan ketekuanan mereka
akan mampu melakukan apa yang diajarkan guru atau orang tua.
ü Mampu didik
Skor IQ ABK mampu didik adalah
55-70. Merupakan disabilitas intelektual ringan. Tak jarang, ABK dengan kategori ini mampu menempuh
pendidikan hingga perguruan tinggi.
Pendidikan bukan hal yang
mustahil dilakukan untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Namun, sebelum itu
diupayakan alangkah lebih baik jika kita mengenal dan memahami kondisi anak. Dengan
mengenal dan memahami kondis anak-anak spesialnya, orang tua pada akhirnya akan
mampu menentukan harapan yang realistis untuk anak-anaknya. Harapan orang tua
ini lah yang menjadi awal yang penting untuk menentukan arah pendidikan ABK.
Tanpa harapan, orang tua akan kehilangan arah sehingga seringkali begitu banyak
waktu dan biaya terbuang percuma, hanya karena salah menentukan pilihan
sekolah. Menentukan harapan dan menggantungkannya kepada Yang Maha Kuasa adalah
cara yang bijak agar orangtua tidak terlalu menekan dirinya sendiri bahkan
anak-anak spesialnya jika hambatan dalam pendidikan harus dihadapi. Serta menentukan
harapan yang fleksibel dengan melihat kondisi dan kemampuan anak juga akan sangat membantu.
Dewasa ini, menentukan
sekolah bagi anak berkebutuhan khusus bukan menjadi masalah besar lagi. Permendikbud mengenai Penerimaan Peserta Didik
Baru (PPDB) mewajibkan semua sekolah menerima siswa inklusi. Artinya, sekolah harus mau menerima
anak dalam kondisi apapun. Tidak hanya sekolah swasta
bahkan sekolah negri pun kini menerima anak berkebutuhan khusus. Namun,
bagaimana pelayanannya terhadap ABK itu yang harus sama-sama kita upayakan.
Berdasarkan pelayanan yang
diberikan, sekolah bagi ABK terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:
ü Sekolah reguler
Di sekolah reguler, ABK
belajar bersama anak-anak normal. Semua fasilitas serta program pembelajarannya
masih bersatu dengan anak-anak lain. Kondisi ini seringkali menjadi tantangan
berat bagi semua pihak terlebih jika hambatan ABK cukup berat. Tidak hanya itu,
seringkali ABK secara tidak langsung dituntut untuk menyesuaikan diri dengan
siswa normal.
ü Sekolah inklusi
Sekolah inklusi adalah
sekolah yang menyelenggarakan pendidikan bagi semua anak (termasuk ABK) tanpa
diskriminasi. Namun, kenyataannya hanya beberapa sekolah yang punya komitmen
memberikan pelayanan yang dibutuhkan ABK.
Sekolah inklusi tidak hanya menerima dan menyelenggarakan pendidikan
bagi ABK, tetapi memenuhi fasilitas yang dibutuhkan termasuk program
pembelajaran yang relevan dengan kondisi masing-masing anak. Sekolah inklusi
menjadi pilihan tepat bagi orang tua yang berharap ABKnya terbiasa hidup di
lingkungan normal tanpa mengesampingkan keterbatasannya.
ü Sekolah khusus
Sekolah khusus atau lebih
dikenal dengan sekolah luar biasa adalah sekolah yang khusus diperuntukkan bagi
ABK. Sekolah ini menjadi pilihan yang bijak bagi ABK terutama dengan hambatan
berat sebab selain fasilitas dan program pembelajaran yang sesuai, seluruh
tenaga pendidiknya sangat memahami kondisi ABK dan kompeten di bidangnya. Dengan
segala fasilitas dan SDM yang mendukung, orang tua tidak perlu khawatir
anak-anaknya mendapatkan diskriminasi.
Memberikan pendidikan bagi
ABK artinya kita memberikan ruang bagi mereka untuk sama-sama bertumbuh dan
berkembang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ini merupakan hak dasar
bagi seluruh anak apapun kondisinya. Lalu, bagaimana jika ABK tidak sekolah? Sebetulnya
yang terpenting adalah ABK mendapatkan pendidikan. Entah, itu di lembaga formal
(sekolah) maupun di rumah (non formal), yang terpenting ABK dididik dan
dimaksimalkan kemampuannya agar mereka menjadi pribadi yang bermanfaat—setidaknya
untuk diri sendiri.
Sejatinya ABK dan anak
normal memiliki kesamaan dan perbedaan yang proporsional. Segala perbedaan
ataupun persamaan itu ada bukan untuk didiskriminasi melainkan agar kita
sama-sama belajar dan memahami satu sama lain. Bahkan, ketika ABK mendapat
pendidikan bersama anak-anak normal, yang mendapatkan manfaat bukan hanya ABK. Anak-anak
normal dan orang tuanya juga belajar untuk menerima serta dilatih untuk
memaksimalkan kekuatannya dalam berinteraksi dengan ABK.
Akhirnya, kita semua
berharap pendidikan bagi ABK sama baiknya dengan pendidikan bagi anak-anak
normal; Semua pihak, terutama orang tua mampu memahami kondisi ABK dengan baik
agar dapat memilihkan pendidikan yang tepat. Tentu, kita menginginkan iklim
yang positif bagi tumbuh dan kembang ABK selayaknya yang telah kita upayakan
bagi anak-anak normal. Sebab, sejatinya jika apa yang dibutuhkan ABK telah
terpenuhi, mereka akan mampu memaksimalkan potensi yang dianugrahkan Tuhan
seperti yang terjadi pada Reviera novitasari.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar