Kemarin ... kemarinnya lagi, obrolanku--dengan salah satu sahabatku--membawaku jauh ke masa lalu. Nggak tahu gimana awalnya, tetiba aku membahas sesuatu yang (biasanya) selalu rapat aku simpan. Mungkin karena kami sudah sangat dekat dan aku percaya bahwa dia orang yang amanah.
Panjang lebar aku bercerita, tanpa aku sadari ada beberapa kalimat ajaib keluar dari mulutku.
Ini kata-katanya:
"Aku pernah tinggal dengan orang kaya, tapi aku tidak bahagia. Aku juga melihat mereka tidak sebahagia yang dipikirkan orang lain: mereka juga punya masalah--yang jauh lebih pelik dari tidak punya uang. Jadi, saat ini, aku enggak mau jadi orang kaya. Aku cuma ingin hidup cukup: bisa memenuhi segala kebutuhan hidupku tanpa berhutang lalu bisa membantu orang lain (membalikan keadaan bahwa aku yang selalu dibantu)."
"Aku nggak tahu hidup aku sampe kapan. Aku melihat orang-orang seumuranku mati (karena lupus) pada saat itu, jadi aku kira aku juga akan mati seperti mereka. Aku cuma nggak mau hidupku berakhir ketika aku masih melakukan keburukan."
Kenapa kalimat-kalimat itu ajaib? Kalimat-kalimat itu terangkai setelah aku berhasil melalui proses yang panjang dan sulit. Bagiku, kalimat-kalimat itu adalah bukti pencapaian diri akan ujian-ujian berat yang pernah menerpa. Mudah banget, ya, buat aku mengucapkan atau menuliskannya saat ini, tetapi sebaliknya beberapa waktu lalu. Katanya, kata dokter spesialis kejiwaan, kalau kita berhasil mengingat cerita masa lalu tanpa emosi, artinya luka kita udah sembuh.
Enggak, sih, rupanya aku belum benar-benar sembuh. Di beberapa titik, emosi itu masih ada: aku masih nangis.
Enggak apa-apa, kok. Lagi-lagi ini tentang proses.
Kalimat-kalimat yang aku sampaikan kepada sahabatku dua hari lalu, sebetulnya bukan hasil. Mereka adalah alasan aku berjuang. Mereka adalah petunjuk tentang arah mana yang harus kutuju. Namun, terkadang aku lupa bahwa aku sudah berjalan di arah yang benar. Hingga aku terlalu sering menyesali keputusan-keputusan besar yang sudah kuambil alih-alih menerima bahwa ini semua adalah keinginanku.
Bestie ... Makasih, ya, obrolan tiga jam kemarin. Dia melegakanku sekaligus menyadarkan bahwa hidupku sudah berjalan di garis yang benar. Katamu, kisahku seperti cerita sinetron. Semoga, yang aku ceritakan bukan cuma sekedar membongkar aib, tetapi ada ibroh yang bisa kita sama-sama ambil.
Komentar
Posting Komentar