Kalau orang lain tidak bisa memahami saya, maka saya yang akan memahami mereka.
Suatu hari (ketika masih awal didiagnosa lupus), saya selalu merasa gusar. Kondisi tubuh yang tidak seperti awal (sebelum sakit lupus), selalu membuat diri saya mengharapkan pengertian orang-orang sekitar saya. Namun, ternyata lingkungan saya kurang bisa memahami. Mungkin karena melihat saya masih bisa beraktivitas normal.
Saya berpikir, apakah saya harus dalam kondisi sekarat baru lingkungan bisa memahami bahwa saya sakit?
Saya mencoba merenung: jika memang saya harus sekarat dulu baru lingkungan bisa memahami saya, tentu saya tidak mau hal itu terjadi. Sejak saat itu, saya berpikir jika orang-orang di sekitar saya tidak bisa memahami saya, maka saya lah yang akan memahami mereka.
Dipikir-pikir memang sulit juga bagi orang lain (yang tidak mengidap lupus) untuk bisa memahami Odapus (orang dengan penyakit lupus). Orang lain enggak akan tahu bawa kami (Odapus) kadang kala sangat sensitif dengan sinar matahari, tidak sanggup menahan asap rokok, perubahan emosi yang signifikan bikin nyeri sendi atau nyeri-nyeri lainnya, dan berbagai kondisi "spesial" lainnya yang tidak dialami orang-orang yang tidak sakit lupus.
Orang yang tidak mengalami apa yang kami alami tidak akan pernah tahu. Bahkan, mungkin beberapa tidak akan percaya karena melihat kami yang baik-baik saja sampai detik ini (a.k masih hidup dan beraktivitas normal).
Maka dari itu, saya berhenti untuk ingin dipahami, berhenti untuk ingin di mengerti. Namun, saya membuat batas yang tegas dan jelas. Oke, tidak apa-apa orang lain tidak memahami saya, saya yang akan memahami mereka. Contohnya, saya berusaha paham kenapa mereka tidak peduli bahwa saya tidak sanggup dengan asap rokok, maka kemudian saya mencari tempat tinggal lain yang bebas asap rokok.
Konsep berpikir ini akhirnya menjadi identitas. Dalam aspek kehidupan lain (selain kesehatan), saya jadi terbiasa tidak menuntut dipahami. Saya selalu berusaha memahami lawan saya dulu, baru sedikit-sedikit menyampaikan kondisi saya (jika dibutuhkan).
Belakangan, saya melihat begitu banyak orang yang ingin dipahami. Mereka senantiasa menuntut untuk dimengerti tanpa berusaha memahami dimana dia berada dan bagaimana orang-orang yang dihadapi. Kalau sudah begini kegagalan komunikasi pasti sering terjadi: setiap masalah pasti buntu, enggak akan nemu titik tengah. Ujung-ujungnya, mereka merasa hidup ini tidak adil.
Saya pernah ada di fase itu: merasa hidup ini tidak adil karena enggak ada satu orang pun yang memahami. Namun, ketika saya berusaha memahami orang lain terlebih dahulu perasaan-perasaan buruk itu hilang. Saya jadi bisa menjalani hidup dengan biasa saja meskipun ada lupus di dalam diri saya.
Sebetulnya, inilah cara kerja dunia: saya bisa memahami orang normal (tanpa penyakit lupus) karena saya pernah normal, tetapi orang normal enggak bisa memahami saya karena mereka enggak mengalami apa yang saya alami dengan penyakit lupus ini.
Hal ini tentunya berlaku untuk semua hal yang memiliki kondisi spesial, bukan untuk para pengidap lupus saja. Jika kita ingin hidup dengan seimbang, kita enggak bisa selalu berharap dipahami. Kita perlu juga memahami orang lain. Justru, dengan kita duluan yang berusaha memahami orang lain, sering kali pihak lain tertarik untuk memahami kita. Disitulah kita bisa memberikan informasi mengenai kondisi kita tanpa menggurui, alhasil mereka lebih mungkin menerima kondisi kita dengan lebih baik.
Memang, segalanya tidak akan selalu berjalan sempurna. Saya terkadang menemukan orang yang tidak mau memahami saya sekalipun saya telah berusaha memahami mereka. Jika, bertemu orang seperti itu solusinya, ya, tinggalkan.
Komentar
Posting Komentar