MEMAAFKAN

Gambar
‎Baru-baru ini terjadi hal buruk yang membuat saya sangat syok. Kejadian yang mungkin cukup umum bagi sebagian orang, tapi entah kenapa sangat mengguncang jiwa saya. Mungkin, karena saya punya trauma atau mungkin karena ada Lupus dia tubuh saya--yang jika ada hal tidak mengenakan terjadi dari luar, Lupus menggerakkan organ-organ di dalam untuk protes dan melakukan perlawanan. ‎ ‎Namun, setelah saya mengambil keputusan untuk memutus hubungan dengan pihak-pihak yang sudah menyakiti dan berpotensi akan menyakiti, perlahan kondisi membaik. Alhamdulillah hati saya sudah pulih, sudah tidak terasa terlalu sakit lagi. Masih ada, sih, kadang-kadang muncul sedih, marah, kecewa, kesal tapi cuma sekelebat dan sangat bisa diatasi. ‎ ‎Dari kejadian kemarin saya belajar satu hal tentang memaafkan. Beberapa orang menyarankan saya untuk memaafkan. Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Kalaulah memaafkan bisa dengan otomatis mengobati luka di hati saya dan sakit ditubuh saya, tentu ...

Teori Innerchild

 

Beberapa waktu lalu saya menonton vidio dokter Jiemi Adrian yang membahas tentang innerchild. Menurut saya, vidio tersebut menjelaskan tentang innerchild dengan sangat realistis: kita dikasih cara pandang yang adil, dikasih solusi juga untuk menghadapinya, dan yang paling penting kita nggak jadi benci orang tua kita sekaligus enggak parno saat kita jadi orang tua.

Jadi ingat pertama kali saya menyadari innerchild yang terluka di dalama diri saya. Mungkin 12 tahun yang lalu, saya belum paham tentang innerchild tapi saya menyadari bahwa di dalam diri saya ada sosok anak kecil yang butuh dipeluk dan diberikan kekuatan. Waktu itu entah gimana saya bisa membayangkan ada seorang anak kecil yang lagi meringkuk ketakutan, kesepian dan kedinginan; kemudian saya (sebagai orang dewasa) datang lalu memeluknya.

"Maaf, ya, aku datang terlambat. Nggak apa-apa. Sekarang kamu aman, ada aku. Aku akan jagain dan temenin kamu. Kamu nggak akan sendirian lagi." Itu isi percakapan dalam diri saya waktu itu. Bisa ditebak, saya nangis kejer dalam kondisi ini. Tentunya sendirian, tetapi di dalam diri saya sudah muncul sosok dewasa yang berani menghadapi segala keadaan. Enggak langsung berani, sih. Tapi seenggaknya mulai muncul kekuatan dan keberanian dan sosok innerchild saya yang terluka itu mulai terobati.

Cerita tentang innerchild saya 12 tahun lalu, related banget sama penjelasan dokter Jiemi Ardian. Awalnya Secara teori saya tidak paham kenapa ada sosok anak kecil yang terluka, lalu ada sosok dewasa yang menguatkan. Ternyata menurut beberapa teori psikologi (teori ego state salah satunya) di dalam diri kita itu ada berapa jiwa. Diri kita itu enggak tunggal tapi banyak/jamak: itulah kenapa kita bisa ngobrol sama diri sendiri, bisa marah sama diri sendiri, bisa kecewa sama diri sendiri, dan sebagainya.

Menurut dok Jim di vidio ini, ada 3 hal yang nyebelin banget dari teori innerchild yang akhirnya ketiga hal itu jika diaminkan hanya menyiksa diri lebih hebat. Sesuai sih, sama yang saya alami: ketika saya menyadari ada innerchild dalam diri saya, yang saya lakukan adalah mencari penyebab--yang enggak lain adalah pola asuh orang tua. Namun, sialnya, semakin saya mencari tahu pola asuh apa aja yang salah (yang pernah saya dapatkan), hasilnya hanya marah dan takut. Saya marah pada orang tua saya karena mereka menyebabkan saya harus mengalami beberapa hal yang sangat menyakitkan, juga takut jika saya mengulang pola itu kepada anak saya sehingga menghasilkan "produk serupa dengan diri saya". Padahal, ada banyak hal yang mempengaruhi pola asuh orang tua--yang bisa jadi orang tua kita juga tidak menginginkannya.

Vidio dok Jim satu ini benar-benar membuka pikiran saya dan menunjukkan bahwa kita hanya manusia. Ideal itu nggak ada. Kita pasti melakukan kesalahan. Yang terpenting sebagai manusia dewasa kita bisa bertanggung jawab sama semua tindakan kita--sekalipun saat kita berbuat salah-- ya, udah, gitu aja cukup. Menurut dok Jim, pola asuh bukan satu-satunya faktor penyebab kita harus melalui sebuah jalan hidup. Ada faktor lain yang nggak bisa kita hilangkan begitu saja.

Dengan sudut pandang yang dok Jim sampaikan, akhirnya kita bisa berempati kepada orang tua kita sehingga memaafkan bisa lebih mudah dilakukan.

Percayalah, membenci orang tua itu lebih menyakitkan dari hal-hal menyakitkan--yang harus kita lalui ketika menjadi anak.

Seneng banget sih sama ilmu-ilmu yang disampaikan dok Jim dan cara beliau menyampaikannya. Saya jadi semakin semangat belajar. Rasanya beruntung banget hidup di era ini ketika ilmu begitu mudah diakses. Meskipun saya nggak kuliah psikologi tapi ilmu kejiwaan tetap bisa saya pelajari dan memulihkan banyak hal di dalam diri saya yang sempat terluka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAAFKAN

ALTRUISME MURNI YANG MENYAKITI

5 TIPS MEMBERIKAN PENDIDIKAN YANG TEPAT UNTUK ABK