MEMAAFKAN

Gambar
‎Baru-baru ini terjadi hal buruk yang membuat saya sangat syok. Kejadian yang mungkin cukup umum bagi sebagian orang, tapi entah kenapa sangat mengguncang jiwa saya. Mungkin, karena saya punya trauma atau mungkin karena ada Lupus dia tubuh saya--yang jika ada hal tidak mengenakan terjadi dari luar, Lupus menggerakkan organ-organ di dalam untuk protes dan melakukan perlawanan. ‎ ‎Namun, setelah saya mengambil keputusan untuk memutus hubungan dengan pihak-pihak yang sudah menyakiti dan berpotensi akan menyakiti, perlahan kondisi membaik. Alhamdulillah hati saya sudah pulih, sudah tidak terasa terlalu sakit lagi. Masih ada, sih, kadang-kadang muncul sedih, marah, kecewa, kesal tapi cuma sekelebat dan sangat bisa diatasi. ‎ ‎Dari kejadian kemarin saya belajar satu hal tentang memaafkan. Beberapa orang menyarankan saya untuk memaafkan. Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Kalaulah memaafkan bisa dengan otomatis mengobati luka di hati saya dan sakit ditubuh saya, tentu ...

TANGGUNG JAWAB

Siang kemarin, percakapan dengan seorang ibu membuka pikiran saya tentang tanggung jawab. Beliau bukan orang tua tunggal. Suaminya masih ada dan masih bersama, juga masih sehat dan muda, tetapi si istri lah yang mengambil andil lebih banyak untuk biaya hidup dan pendidikan anaknya.

"Kalau si AA minta apapun (terutama untuk sekolahnya), ummi selalu iya kan, meskipun umi gak punya uang dan gak tahu gimana cara mewujudkannya. Ah, yang penting janji dulu we. Tapi, ya, selalu ada aja rezekinya kalau udah waktunya teh." Begitu katanya.

Saya mencoba mencerna ucapan beliau. Kata-katanya relate dengan pertanyaan orang tua saya lima belas tahun lalu. Waktu itu orang tua saya terang-terangan mengatakan bahwa beliau tidak sanggup untuk membiayai pendidikan saya. 

"... tapi, si anu, kok bisa ya, menyekolahkan anaknya sampai kuliah padahal dia hanya seorang tukang becak?" ucap orang tua saya ditengah tausiahnya agar saya mau menerima keadaan untuk tidak melanjutkan pendidikan. Tentu, saya tidak bisa menjawab. Namun, pertanyaan itu melekat dalam ingatan saya. Seiring berjalannya waktu, saya mencari jawabannya.

Dari awal saya merasa janggal, sebab saya menyakini bahwa kita bisa bebas bermimpi apapun kemudian berusaha mewujudkannya. 

Lalu, di waktu yang lain, saat orang tua saya memilih meninggalkan saya lagi, padahal kondisi rezeki beliau pada saat itu cukup berlimpah. Saya menyadari bahwa ini bukan tentang keadaan. Kalau beliau mau, bisa saja beliau bertahan bersama saya, toh Tuhan sudah bukakan jalan rezeki yang lancar di tempat kami tinggal saat itu. Dan saat ini, ketika saya sudah menjadi orang tua, baru saya paham secara utuh bahwa tanggung jawab itu bukan tentang kemampuan tetapi tentang kemauan.

Kemauan lah yang membuat para orang tua sedia berjuang untuk memenuhi tanggung jawab mereka terhadap anak-anak nya. Baru, setelah itu Tuhan memberikan kemampuan. 

Itulah kenapa seorang tukang becak bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Sebab kemauannya lah dia berjuang dan rezeki datang mengikuti kemauannya. Adakalanya rezeki tidak dalam bentuk uang. Segala hal yang memudahkan upaya kita dalam mencapai tujuan menurut saya itulah rezeki. Anak yang pintar sehingga mampu mendapat beasiswa untuk pendidikannya, itu juga salah satu bentuk rezeki bukan?

Ketika orang tua mau berjuang, setidaknya dia akan mendoakan dan segala kemudahan akan menghampiri anak-anaknya sekalipun tidak berasal dari tangannya. 

Pemahaman ini bukan untuk menghakimi siapa-siapa. Saya sudah menerima segalanya yang saya miliki di hidup ini. Akan tetapi, dengan pemahaman ini saya pikir saya bisa menjalani peran sebagai orang tua dengan lebih baik ketimbang saat orang tua saya menjalaninya.

Di dunia ini (untuk hal apapun), tugas kita hanya berjuang, hanya berusaha. Ada takdir yang membawa hasil akhir. Namun, kita tidak bisa bilang bahwa "ini takdir" jika berusaha untuk mengubahnya saja kita belum pernah. Kita nggak bisa bilang kalau "saya tidak mampu" jika berjuang saja kita tidak mau.

Bandung, 07 September 2024
Written by Gita Waluyo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAAFKAN

ALTRUISME MURNI YANG MENYAKITI

5 TIPS MEMBERIKAN PENDIDIKAN YANG TEPAT UNTUK ABK