Dua hari ini pulang kerja nge-ojol karena motor lagi nggak bisa dipake. Kesal, karena sedikit ribet dan harus ngeluarin ektra biaya transportasi. Namun, kekesalan itu berubah jadi rasa syukur dan senang ketika aku mendapatkan banyak cerita dari driver ojolnya.
Pak Driver terlihat masih cukup muda, mungkin usianya sekitar tiga puluhan. Awalnya beliau tampak tertarik dengan sekolah tempatku bekerja. Dia mengira aku adalah orang tua murid karena aku membawa serta anakku--yang memakai seragam SD. Namun, ketika aku menjelaskan bahwa aku bekerja di sana beliau terlihat semakin antusias.
Sepanjang jalan Pak Driver banyak bertanya, tapi yang dia tanyakan tentang pendidikan inklusi nya. Dalam hati ingin nanya, apakah anak Bapak ABK? Tapi aku tahan. Aku pikir itu kurang sopan. Namun, akhirnya si Bapak ini cerita sendiri.
"Anak saya ABK, teh. Buat saya sih enggak apa-apa, saya yakin anak saya punya sesuatu yang bisa diasah. Kalau ke akademik enggak bisa, saya mau asah bakatnya," curcolnya. Aku terenyuh. Bapak ini punya semangat yang luar biasa, kataku dalam hati.
Lalu, aku sambut dong cerita si Bapaknya. "Anak bapak usia berapa? Jenis kelaminnya apa? Hambatannya apa? Sudah pernah diperiksa? Kondisinya sekarang bagaimana? Sudah paham intruksi?" Tanyaku bertubi-tubi. Dan si Bapak detai menjawab pertanyaanku.
"Di sekolah teteh biaya masuknya berapa?" tanya Bapak itu lagi. "Waduh teh, sekolah inklusi emang mahal-mahal, ya?" ucapnya setelah aku sampaikan sebuah nominal.
"Anak Bapak sekarang sekolah di mana?" tanyaku mencari kejelasan. Si Bapak itu menyebutkan sebuah nama klinik psikolog dan menjelaskan bahwa sekolah anaknya di bawah naungan klinik tersebut.
"Anak Bapak udah ada di sekolah yang tepat, Bapak juga udah menerima keadaan anak Bapak. Ini bagus banget, loh, Pak. Sekolah mahal tidak selalu yang terbaik untuk anak kita, yang penting penerima orang tuanya dulu dan bagaimana harapan serta upaya orang tua terhadap anak ABK nya. Sekolah yang mahal tidak menjamin bisa memberikan pelayanan yang baik untuk anak kita dan punya uang yang banyak saja tidak cukup. Ada ilmunya, Pak," tegasku pada Driver Gocar kemaren.
Aku menawarkan bantuan jika si Bapak ingin info lebih lanjut mengenai pendidikan anak ABKnya. Aku memang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa di dunia inklusi ini, tapi beberapa tahun mendampingi anak-anak spesial, aku jadi punya bayangan bagaimana sebaiknya anak-anak spesial itu dididik.
Pengalaman naik gocar kemarin enggak bisa aku lupakan. Aku terkesima dengan semangat dan penerima sang Driver terhadap anak spesialnya dan mendoakan semoga perkembangan anaknya semakin baik dan mendapatkan pendidikan terbaik.
Komentar
Posting Komentar