Lalu, hari ini, lagi-lagi aku dapat driver yang doyan chit chat. Jujur, aku penasaran sama logat jawanya yang cukup kental. Ketika dia melontarkan beberapa pertanyaan, sengaja aku bertanya balik.
"Bapak orang Jawa, ya?" tanyaku memuntahkan rasa penasaran yang sejak tadi bergumul di kepala.
"Iya teh."
"Jawanya mana, Pak?"
"Riau ..." Belum selesai driver ini menjelaskan aku sudah memotongnya karena kaget.
"Kok, Riau, Pak. Kan, itu mah bukan Jawa?"
"Orang tua saya transmigran, teh," jelasnya.
Obrolan kami berlanjut sepanjang jalan sampai akhirnya dia membahas masalah pendidikannya dan tersiratlah bahwa Driver ini seorang sarjana.
"Sebelumnya Bapak kerja di mana emang?"
"Saya kerja di Al-Islam, teh."
"Terus sekarang jadi Driver? Sambil kerja?" Ucapku hati-hati karena takut salah berbicara.
"Enggak teh, saya fokus di ojol aja."
Sudah dipastikan pertanyaanku berlanjut sampai aku menemukan jawaban kenapa si Bapak ini lebih memilih jadi ojol ketimbang menjadi petugas rekam medis. Ternyata, semua karena anak dan keluarga. Beliau membutuhkan waktu yang leluasa dan pekerjaan yang fleksibel. Entah apa masalah tepatnya. Tentu, aku ingin tahu tapi aku juga punya batasan sejauh maha aku harus bertanya. Terlebih, jarak menuju rumahku semakin terpapas dan aku harus segera mengakhiri pembicaraan kami.
Selain menjadi ojol, si Bapak ini ternyata punya usaha lain. Aku cukup lega mendengar akhir ceritanya sebab aku tahu pasti tantangan menjadi driver ojol itu bagaimana karena suamiku juga seorang driver.
"Terimakasih, ya, Pak. Semoga rezeki Bapak lancar-lancar selalu." ucapku saat aku memberikan helm kepadanya dan kami pun mengakhiri pembicaraan.
Setelah sampai di rumah, aku merenung. Hidup ini emang sebecanda ini: dulu aku pernah merasa sangat hancur dan gagal karena putus kuliah; Aku merasa tidak punya masa depan; Mau jadi apa? Pendidikanku saja tidak selesai! tetapi di sisi lain justru ada yang sudah berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya lalu harus memilih jalan lain yang bertolak belakang dari jalan kebanyakan. Entah apa alasannya, tapi pasti bukan perkara mudah dan sepele.
Menjadi ojol bukan hal yang buruk, namun tentunya punya resiko tinggi--yang tidak terlalu menguntungkan pelakonnya. Bagi sebagian orang profesi ini tidak menjadi pilihan, tapi bagi sebagian yang lain mau tidak mau harus dipilihnya karena beberapa kondisi.
Dipikir-pikir kita semua di dunia ini punya peluang sukses sekaligus gagal yang sama. Yang berpendidikan tinggi, yang tidak, semua punya harapan yang sama rata. Tugas kita cuma menjalankan pilihan dan takdir sebaik-baiknya.
Kita semua enggak perlu jadi sukses (kaya raya). Cukup berdaya untuk diri sendiri, syukur-syukur bisa bermanfaat bagi orang lain dan manfaat itu tidak selalu tentang bagi-bagi uang.
Jadi, apapun pendidikan kita, profesi kita, enggak perlu minder. Jalani aja dengan sepenuh hati dan rasa bangga. Selama kita bisa berdiri di kaki kita sendiri dan tidak merugikan orang lain, menjadi apapun--selama tidak bertentangan dengan norma--bukan sesuatu yang harus diperdebatkan bahkan disesali.
Komentar
Posting Komentar