MEMAAFKAN

Gambar
‎Baru-baru ini terjadi hal buruk yang membuat saya sangat syok. Kejadian yang mungkin cukup umum bagi sebagian orang, tapi entah kenapa sangat mengguncang jiwa saya. Mungkin, karena saya punya trauma atau mungkin karena ada Lupus dia tubuh saya--yang jika ada hal tidak mengenakan terjadi dari luar, Lupus menggerakkan organ-organ di dalam untuk protes dan melakukan perlawanan. ‎ ‎Namun, setelah saya mengambil keputusan untuk memutus hubungan dengan pihak-pihak yang sudah menyakiti dan berpotensi akan menyakiti, perlahan kondisi membaik. Alhamdulillah hati saya sudah pulih, sudah tidak terasa terlalu sakit lagi. Masih ada, sih, kadang-kadang muncul sedih, marah, kecewa, kesal tapi cuma sekelebat dan sangat bisa diatasi. ‎ ‎Dari kejadian kemarin saya belajar satu hal tentang memaafkan. Beberapa orang menyarankan saya untuk memaafkan. Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Kalaulah memaafkan bisa dengan otomatis mengobati luka di hati saya dan sakit ditubuh saya, tentu ...

Guru TK, Pembawa Pesan Alam Bawah Sadar

Beberapa waktu lalu, postingan seorang ibu di media sosial viral. Ibu tersebut membahas tentang cita-cita anaknya yang--menurut si ibu--terlalu rendah. Pasalnya, sang anak bercita-cita menjadi guru TK. Tak ayal postingan tersebut mendapat beragam tanggapan dari netizen. Saya pun pada saat itu ikut mengomentarinya. 

Saya yang ketika itu mengajar di TK juga sedikit terganggu dengan pandangan si ibu yang terkesan meremehkan profesi guru TK. Saya pikir apa yang salah dengan guru TK? Hingga akhirnya saya mencoba merefleksikan diri, lalu mencari tahu kembali sesungguhnya kenapa saya mau berada di TK?

Saya pikir menjadi guru TK sama bermanfaatnya dengan guru-guru di jenjang pendidikan lainnya, hanya saja tantangan tentu tidak sama. Namun, bukan berarti lebih mudah. Mungkin sebagian orang menganggapnya remeh, tetapi pada kenyatannya menjadi guru TK tidak sesederhana yang dipikirkan kebanyakan orang.

Saya sendiri punya alasan yang unik kenapa memilih bekerja di TK. Saya punya issue innerchild sehingga saya merasa sangat nyaman dan berharga ketika saya bisa hadir dan memberikan pengaruh untuk tumbuh kembang anak-anak usia dini. Di dalam diri saya ada jiwa anak kecil yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya (rasa aman, rasa dihargai, rasa dimiliki, rasa dicintai). Lalu, ketika saat ini saya hadir di tengah-tengah anak usia dini, memberikan kebutuhan dasar--yang tidak saya dapatkan dulu, sesungguhnya saya sedang memenuhi kebutuhan innerchild saya sendiri. Ada rasa lega dan bahagia ketika saya bisa memastikan anak-anak kecil di sekitar saya mendapatkan apa yang tidak pernah saya dapatkan.

Hal lain yang sangat saya cintai di dunia anak usia dini itu adalah kepolosan mereka sebagai manusia. Bagi saya, di usianya ini anak-anak masih sangat mudah di bentuk. Ketika kami (sekolah) menemukan masalah, maka untuk memperbaikinya tidak akan terlalu rumit. Sebagai contoh, di tahun pertama saya bekerja ada seorang anak yang memiliki gangguan emosi sehingga lingkungan (teman-teman dan orang tua murid) secara otomatis melabelinya sebagai "anak nakal". Katakanlah anak ini bernama X. X sangat tidak dapat mengontrol emosinya ketika ada sesuatu yang tidak berjalan dengan keinginannya, sering kali teman-teman bahkan guru mendapatkan kekerasan fisik. Kondisi ini pada akhirnya menggerakkan kami untuk mencari solusi. Beberapa treatment dilakukan oleh semua pihak (sekolah dan orang tua). Kemudian selang beberapa bulan kondisi X semakin membaik hingga di tahun ke dua dia berada di TK, kekerasan terhadap teman-teman dan guru tidak pernah dilakukannya lagi. Dari cerita ini kita bisa melihat bahwa pada anak usia dini permasalahan lebih mudah ditangani asal semua pihak bekerja sama tentunya.

Namun, hal lain yang tak kalah membuat saya betah ada di dunia anak-anak usia dini yaitu saya bisa mempelajari sifat-sifat dasar manusia. Anak-anak itu sangat polos dan beragam karakter. Mereka adalah cerminan manusia-manusia dewasa di sekitarnya. Seringkali saya bisa menebak bagaimana karakter kedua orang tuanya dengan melihat karakter anak-anak itu. Untuk saya yang sangat menyukai ilmu kejiwaan, tentu ini sangat menyenangkan. Serta apa yang saya dapatkan dengan mempelajari kepribadian mereka bisa membantu saya dalam menghadapi manusia dewasa di sekitar saya.

Lebih dalam lagi, sesungguhnya apa yang kita ajarkan di usia TK ini akan meresap ke alam bawah sadarnya. Bisa jadi apa yang kita ajarkan menjadi tindakan yang secara otomatis dilakukan berulang-ulang sepanjang hidup mereka. Memang, hal itu tidak terlalu terlihat sebab apa yang masuk ke alam bawah sadar itu seolah terlupakan begitu saja. Bahkan, mungkin anak-anak dengan mudahnya melupakan nama guru TK mereka. Namun, percayalah segala yang kita ajarkan di masa ini sangat penting dan berdampak pada perkembangan mereka. Jika manusia tidak terlalu dapat melihat dan menghargai apa yang kita lakukan, yakinlah itu akan menjadi amal yang senantiasa mengalir menjadi jariyah.

Jujur, saya sangat senang dan bangga menjadi guru TK, mengingat begitu besar dampaknya bagi kehidupan seorang anak. Kendati penghargaan tidak terlalu bisa kami dapatkan, tetapi saya berharap semua orang bisa membuka matanya dan melihat bahwa peran kami sama berartinya dengan guru-guru di jenjang pendidikan lain. Semoga para orang tua tidak perlu lagi sedih atau khawatir ketika anak-anak mereka bercita-cita ingin menjadi guru TK. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAAFKAN

ALTRUISME MURNI YANG MENYAKITI

5 TIPS MEMBERIKAN PENDIDIKAN YANG TEPAT UNTUK ABK